www.m-edukasi.web.id blog guru
78682 Total Hits Halaman
25390 Total Pengunjung
40 Hits Hari Ini
18 Pengunjung Hari Ini
1 Pengunjung Online

PUASA DAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

Diposting pada: 2018-06-05, oleh : Admin ICT SMKN 1 Kuningan, Kategori: Informasi Sekolah

Oleh : Drs. Hedi Syahbudin Yamin MSi

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berpenduduk mayoritas muslim. Namun kita semua prihatin seperti halnya pernyataan Prof. Mahfud MD bahwa pasca reformasi justru praktik korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) cenderung semakin banyak. Kesenjangan ekonomi dan sosial semakin lebar, nampaknya keberadaan lembaga atau badan amil zakat belum mampu berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan secara signifikan. Praktik tercela pornografi, pelecehan dan kekerasan seksual, keadaan darurat NARKOBA, dan pelanggaran hukum lainnya menjadi hiasan terdepan berita nasional. Berbagai upaya dalam membuat formula dalam menata karakter dan kepribadian generasi muda, seperti halnya di sekolah-sekolah telah diterapkannya pendidikan karakter dan budaya bangsa, ditajamkannya pendidikan budi pekerti, kemudian juga adanya gerakan membumilandaskan revolusi mental. Berbagai upaya pembinaan tersebut, tentunya membutuhkan adanya kebersamaan dan sinergitas antara semua komponen bangsa. Kini merupakan momen waktu yang tepat pada bulan Ramadhan dimana kita sebagai bangsa dan ummat untuk segera melakukan introspeksi dan berbuat menjadikan Ramadhan sebagai titik perubahan perilaku dan karakter bangsa, karena pembinaan serta pendidikan karakter bangsa tidak cukup dengan hanya sekedar melakukan pencitraan tetapi harus dilakukan dengan pembiasaan yang berkelanjutan.

Begitu banyaknya hikmah puasa di bulan Ramadhan, sehingga Rasulullah melalui cerita Ibnu Abbas, bersabda, “ Kalau saja ummatku tahu kandungan bulan Ramadhan, tentu mereka akan mengharap bulan itu berlangsung satu tahun penuh”. Namun sayangnya, masih banyak kesenjangan antara hikmah yang diketahui dan kenyataan yang kita jumpai. Sebagai misal masih banyak terlihat orang berpuasa tentang produktivitasnya menurun, etos kerjanya rusak, jiwa sosialnya tetap tidak peka bahkan sifat konsumtifnya semakin nampak. Kenyataan tersebut sebenarnya sejak awal Rasulullah SAW telah mengingatkan :

Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapat sedikitpun hikmah dari puasanya kecuali lapar dan haus. Dan betapa banyak orang shalat di malam harinya tapi tak mendapat apapun kecuali sekedar bangun malam” (HR. Thabrani).

Seorang yang berpuasa tentunya akan mendapatkan beberapa nilai puasa yang bisa dijadikan landasan perilaku dan karakter dalam kehidupan sehari-hari. Diantara nilai-nilai yang diajarkan dalam berpuasa adalah mampu sabar menahan diri. Sebagaimana sabda Nabi kita SAW :

Puasa adalah separoh dari sabar” (HR. Ibnu Majah)

Karena orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya akan selalu mempertimbangkan baik buruknya suatu keinginan. Karakter ini sangat dibutuhkan oleh seluruh komponen bangsa ini. Dengan memiliki karakter semacam ini, seseorang tidak akan menghalalkan segala cara dalam memperoleh apa yang dia inginkan. Ia dapat menahan diri walaupun ia sangat menginginkan. Ia sadar bahwa kalau bukan haknya, maka ia tidak boleh mengambilnya. Ia selalu ingat bahwa Allah selalu mengawasinya. Seperti halnya ketika ia berpuasa, walaupun lapar atau haus, makanan dan minuman yang halalpun tidak boleh apalagi makanan dan minuman yang haram, ia tetap bertahan menahan diri sampai datangnya waktu berbuka. Jika kita renungkan ibadah puasa seperti saat ini bisa jadi merupakan cara Allah membina manusia menjadi orang yang anti korupsi. Ketika berpuasa, kita sebenarnya diajarkan untuk jujur, karena tidak ada yang tahu kita berpuasa atau tidak, selain diri sendiri dan Allah SWT, Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda :

Puasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan sia-sia serta menjauhi perbuatan yang kotor dan keji” (HR. Al- Hakim)

Berikutnya karakter yang sangat dibutuhkan untuk bangsa ini adalah kedisiplinan. Nilai karakter ini telah diajarkan satu bulan penuh selama Ramadhan. Hal ini sangat terasa ketika menjelang buka puasa. Walaupun hanya kurang satu menit, kalau belum masuk waktunya untuk berbuka, semua orang yang berpuasa siapapun dia akan patuh dan disiplin untuk menunggunya. Begitu pula pada waktu enak-enaknya sahur apabila sudah waktunya imsak maka semua orang disiplin harus berhenti makan, minum dan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa. Orang puasa mau tidak mau harus mentaati semua ketentuan atau aturan yang berlaku dalam puasa. Tentunya nilai karakter disiplin sangat perlu terus dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga kita sebagai bangsa yang mayoritas muslim tidak tertinggal oleh bangsa-bangsa lain, dimana mereka telah membudayakan disiplin di segala bidang; dari disiplin budaya antri, membuang sampah pada tempatnya, hingga budaya taat berlalu lintas. Dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi, suatu bangsa akan mampu membangun peradaban yang maju, karena semua berjalan sesuai dengan aturan.

Puasa dapat mewujudkan sikap toleran dan dermawan karena orang berpuasa merasakan betul pahit dan getirnya lapar dan dahaga. Dari sini akan muncul suatu kesadaran terhadap sesamanya, ia akan merasakan betapa menderitanya, banyak saudara kita yang tidak makan dan minum karena ketiadaan. Orang berpuasa akan merasakan keprihatinan terhadap mereka yang merasakan lapar dan dahaga bukan sehari, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Akan tetapi, lapar dan dahaga itu mereka rasakan berhari-hari, sepanjang minggu, bahkan mungkin seumur hidup, dililit oleh kemiskinan, kelemahan, dan kelelahan tubuhnya. Dalam suatu keterangan “Bahwa Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan dan kedermawanan Rasulullah melebihi angin yang berhembus” (HR. Bukhari)

Maka selanjutnya karakter yang diajarkan puasa adalah peduli terhadap sesama. Di dalam puasa diajarkan nilai solidaritas sosial dengan anjuran berbuat baik sebanyak-banyaknya sehingga puasa diharapkan mampu membentuk kesalehan sosial, terutama dalam bentuk tindakan menolong kaum fakir miskin. Jika hal ini bisa terus berjalan pada waktu lain di luar puasa, maka akan menjadi karakter bangsa yang luhur. Karakter yang akan dapat menuntaskan berbagai problematika sosial dari mulai kemiskinan, pengangguran, dan anak jalanan. Orang yang menjalankan ibadah puasa, ia akan memancarkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, memiliki rasa kasih sayang. Mereka akan mengerti dan membantu membebaskan kesulitan dan penderitaan orang lain, maka orang yang ahli puasa ia menjauhi sifat egoisme, dan tidak suka menzalimi orang lain. Sebagaimana firman Allah :

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat” (QS. An-Nahl : 90)

Apabila puasa ini dikerjakan dengan kesungguhan, dengan iman dan kesadaran (Imanan wahtisaaban), maka setelah selama sebulan itu akan sangat terasa meresap pada jiwa, Insya Allah akan terpancar nilai-nilai karakter seperti sabar, jujur, disiplin, dermawan, dan peduli terhadap sesama, dimana semuanya itu sangat penting untuk membangun mewujudkan bangsa yang bermartabat dan berperadaban.

 


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id